Thursday, 28 January 2010
Rachel Chorry
Rachel Corry, adalah seorang mahasiswi amerika, mahasiswa di Colorado University, berambut pirang sebahu, dan hidung yang mancung. Dia adalah gadis yang periang. Semestinya ia sedang menikmati masa mudanya yang indah penuh bunga. Bersama temannya mengadakan pesta. Atau ke tempat wisata bersenang-senang dengan kekasihnya Tetapi rachell bukan pemudi biasa.
Di buku diarinya yg berwarna biru muda, ia menulis, aku akan berangkat menuju palestina my mommy, aku rindu anak palestina. Mereka adalah pejuang tangguh. Saya harus menemani mereka. Menghadapi kejahatan yang di dukung negara besar. Sayang mommy, negara itu adalah negaraku.
Akhirnya Rachel berangkat ke Palestina dari Nevada. Dengan uang bekal sisa uang saku kuliah pemberian orang tuanya. Tiba di Beirut, dan menuju tepi barat, dan Jalur Gaza. Rachel Corry menantang maut.
Ia ingin menjadi tameng hidup anak palestina menghadapi tentara israel yang kuat.
Februari 2006, di sore yang panas, Di tengah dahsyatnya perang, dan dentuman senjata militer, Tuhan memanggil Rachel.
Rachel, kini telah tiada. Peluru tentara israel telah merobek dadanya. Dan menembus hatinya yang mulia.
Kita tidak akan mempermasalahkan siapakah yang salah. Tentara israel, Pejuang palestina, apa Amerika Serikat. Biarkan itu menjadi misteri. Dan manjadi perdebatan para politisi, agamawan, dan negarawan.
Kita hanya salut akan keberanian Rachel, membela kebenaran yang ia yakini. Pergi, seorang diri dari kota Nevada yg indah, menuju medan tempur yang di penuhi hujan peluru. Yang pilihannya hanya satu. Mati. Hanya pemudi yg punya keyakinan teguh yang bisa menjalaninya.
Membaca biografi rachel, aku merasa rendah diri, tidak mempunyai harga diri. Apalah artinya aku di bandingkan engkau, Rachell.
Sedang kita di sini tertawa tanpa tujuan. Menghabiskan malam yang telah bosan dengan kita. Dan hari berlalu tanpa arti.
Untuk Rachel Chorry di surga,
Saya mengerti, Tuhan begitu mencintaimu Rachel.